Perspektif Telah Mengubah Persepsinya Tentang Cinta
Pada sepertiga malam yang sunyi, isak tangis bayi terdengar mengoyak sepi. Kian ku dengar nyatalah bahwa asal muasal bahana tangis itu terpusat pada satu titik yang tak begitu jauh dari rumahku. Sudah seperti ritual barangkali bayi itu menangis, membangunkan manusia yang terlelap dalam nyamannya mimpi. Mengingatkan untuk melaksanakan ibadah malam dalam rangka lebih mendekatkan diri kepada sang pemilik cipta kehidupan ini. Kedatangan bayi itu sempat membuat ku terheran. Bagaimana tidak, karena sepengetahuan ku sang pemilik rumah hidup dalam kesendirian. Bukan hanya ia belum beristri, bahkan ia tidak ingin beristri. Dibuat bingung ku dengan fenomena ini.
Tentulah ada sebuah kisah di balik keanehan ini terjadi. Kisah ini berawal ketika seorang lelaki dengan hati yang sudah memiliki rasa cinta lagi. Ia sudah tak bisa mencintai. Baginya cinta adalah sebuah perkara yang kunjung reda hadirkan cedera. Cinta tak datang begitu saja, melainkan datang karena menilai rupa dan seberapa banyak materi yang kau punya. Tanpa kedua hal itu, kau tak ubahnya makhluk yang dibenci oleh cinta. Karena cinta tak menghendaki dirimu ada. Pikir lelaki itu.
Kini ia telah menjadi seorang intelek yang kaya di usia muda, namun tampil sebagai figur yang tampak begitu sederhana. Ia memiliki perusahaan real estate yang besar serta ratusan cabang cafenya tersebar di seluruh penjuru kota tentunya. Pernah ku sesekali terlibat dalam suatu pembicaraan secara personal dengannya. Pembicaraan yang benar-benar bersifat privasi. Menceritakan segala duka yang pernah dilaluinya, terlebih tentang asmara. Ia melantunkan sebuah cerita bahwa seluruh kesuksesan yang telah diraihnya saat ini, tak lepas dari rasa sakit yang dideritanya karena cinta. Dan jika memang kau pernah disakiti oleh cinta, maka bersyukurlah. Karena rasa sakit itulah yang mendorong kita untuk bisa mencapai segala pencapaian yang luar biasa, meyakinkan pada mereka yang telah menyakiti kita, bahwa keputusan yang mereka pilih tentulah bodoh adanya.
Ia berfikir bahwasanya dengan mejadi kaya, ia bisa diterima oleh cinta. Dan akhirnya persepsi itu melenyapkan rasa cinta dihatinya. Sebab semenjak kesuksesan yang diraihnya, semakin maraklah gadis yang tak henti merayunya. Dan secara perlahan, pandangan kritis pun tercipta: “Mereka para jalang tak pernah mencintaiku, hanya saja mereka benar-benar mencintai kekayaanku”. Hingga pada satu masa akhirnya tak penah ada cinta yang tertanam dihatinya. Cinta tak lebih sekedar malapetaka adanya. Dan cinta hanya melemahkan atas fokus yang ingin dicapainya. Hanya orang lemah lah membutuhkan hadirnya cinta.
Tentulah ada sebuah kisah di balik keanehan ini terjadi. Kisah ini berawal ketika seorang lelaki dengan hati yang sudah memiliki rasa cinta lagi. Ia sudah tak bisa mencintai. Baginya cinta adalah sebuah perkara yang kunjung reda hadirkan cedera. Cinta tak datang begitu saja, melainkan datang karena menilai rupa dan seberapa banyak materi yang kau punya. Tanpa kedua hal itu, kau tak ubahnya makhluk yang dibenci oleh cinta. Karena cinta tak menghendaki dirimu ada. Pikir lelaki itu.
Kini ia telah menjadi seorang intelek yang kaya di usia muda, namun tampil sebagai figur yang tampak begitu sederhana. Ia memiliki perusahaan real estate yang besar serta ratusan cabang cafenya tersebar di seluruh penjuru kota tentunya. Pernah ku sesekali terlibat dalam suatu pembicaraan secara personal dengannya. Pembicaraan yang benar-benar bersifat privasi. Menceritakan segala duka yang pernah dilaluinya, terlebih tentang asmara. Ia melantunkan sebuah cerita bahwa seluruh kesuksesan yang telah diraihnya saat ini, tak lepas dari rasa sakit yang dideritanya karena cinta. Dan jika memang kau pernah disakiti oleh cinta, maka bersyukurlah. Karena rasa sakit itulah yang mendorong kita untuk bisa mencapai segala pencapaian yang luar biasa, meyakinkan pada mereka yang telah menyakiti kita, bahwa keputusan yang mereka pilih tentulah bodoh adanya.
Ia berfikir bahwasanya dengan mejadi kaya, ia bisa diterima oleh cinta. Dan akhirnya persepsi itu melenyapkan rasa cinta dihatinya. Sebab semenjak kesuksesan yang diraihnya, semakin maraklah gadis yang tak henti merayunya. Dan secara perlahan, pandangan kritis pun tercipta: “Mereka para jalang tak pernah mencintaiku, hanya saja mereka benar-benar mencintai kekayaanku”. Hingga pada satu masa akhirnya tak penah ada cinta yang tertanam dihatinya. Cinta tak lebih sekedar malapetaka adanya. Dan cinta hanya melemahkan atas fokus yang ingin dicapainya. Hanya orang lemah lah membutuhkan hadirnya cinta.
Hingga pada akhirnya ia singgah ke sebuah panti asuhan. Ia adopsi bayi yang ada di tempat tersebut. Seorang bayi laki-laki. Dengan kesuksesannya yang demikian tentulah merawat seorang bayi bukan hal yang sulit dilakukannya. Dan yang perlu digaris bawahi olehnya bahwa mendapatkan keturunan tak butuh adanya seorang pendamping hidup. Dan adanya kelahiran sang bayi di dunia yang fana ini, merupakan bukti nyata laknatnya cinta. Karena cinta tak lebih sekedar pemuas hawa nafsu belaka. Hasrat untuk memiliki apa yang sejatinya bukan miliknya. Dan meninggalkan semaunya hanya karena rasa bosan. Dan perlu kau ketahui, semua yang ada di alam semesta adalah milik tuhan sang pencipta.
Secara hakikat, tidak ada yang salah dengan cinta. Hanya saja lelaki itu menaruh cinta pada orang yang salah. Menanam harap pada hati yang salah. Sehingganya, perspektifnya tentang cinta menjadi berantakan adanya. Memutar balikkan sebuah fakta akan tujuan dari sebuah cinta. Karena cinta, membuatmu merasa nyaman berada didekatnya. Sedang lelaki itu, bagai tak henti menebar rasa benci akan adanya cinta. Namun ia tak pernah menyangkal terhadap firman tuhan yang menyampaikan bahwasanya manusia diciptakan berpasang-pasangan. Hanya saja ia benci mengakui adanya firman tuhan yang demikian itu. Entahlah, bagaimana cara merubah perspektif destruktifnya tehadap sebuah hubungan.
Lalu kau menilai lelaki itu, ia kehilangan rasa cinta sehingga hilang pula rasa sayang dan belas kasihnya. Kau tahu, dengan mengadopsi makhluk mungil yang tak ketulungan rewelnya tanpa bantuan istri barang sekalipun kau sebut lelaki itu laknat. Betapa mulia tindak tanduknya. Hingga tiba pada satu masa, ujaran fitnah menerjang. Yang membawanya tutup usianya tanpa pernah merasakan hangat dan teduhnya sebuah cinta. Pada sebuah pasung dengan batu yang berlumur darah, teregang nyawanya. Terbunuh oleh benci yang telah lama dipujanya, yang kini menjangkit di lingkungan sekitarnya.

Dalam banget ya,
ReplyDeleteHarus dibaca ulang2 agar dapat makna yg dimaksud...
Kosakatanya bagus dan unik. Bahasanya mengalir dan tidak alay. Semangat.
ReplyDeleteMengharukan,, adminya pinter bikin cerita nih
ReplyDelete