Menempa Kenangan Menjadi Rindu

Menempa Kenangan Menjadi Rindu





Alam tak henti menunjukkan rasa gelisahnya, pun langit berhiaskan awan legam berarak-arak riuh dan sesekali mereka semarak mendendangkan gemuruh, yang mampu memekakan gendang telingaku. Membuat seluruh udara disekitarku jadi turun suhu. Sesekali udara dingin berembus ricuh menampar wajah muramku yang sedari tadi memburu pandang dengan tatap yang begitu kosong. Termenung memintal kembali gulungan kenangan tua agar jalinan kisahnya tetap rapih dan tak semerawut. Sudah biasa ku dengan kegiatan seperti itu, memutar kembali kaset pita lawas yang melantunkan kenangan kedekatan kita kala itu di kepalaku. Dan itu candu bagiku.

Hidupku kini masih terkatung-katung pada lautan kenangan tentang mu. Yang kulakukan setiap harinya tak lebih layaknya seekor anjing dengan sepotong tulang belaka, gali kenangan dan tutup kenangan. Walau nyatanya hanya berujung pada sebuah kecewa yang kurasa. Dan kini fotomu terpampang di aplikasi sosial mediaku. Fotomu dengan sudut latar yang lokasinya tiada ku tahu, hanya saja dengan pemandangan disekitar fotomu yang tidak begitu asing bagiku, rumah adat tongkonan. Tiba-tiba terasa ada sesuatu yang sedang mengalir deras di dalam urat nadiku, rindu.

Dan rinduku terasa seperti sembilu saat ku tak tahu pada siapa hendak mengadu. Jika padamu ku mengadu tentulah akan terasa tabu. Bertahun-tahun tiada pernah bertemu kemudian mengirim sepucuk pesan tentulah dikira ada mau. Bingung ku dengan keadaan yang begitu. Dan akhirnya tiada tindakan yang kulakukan, cukup menikmati indah parasmu dan kubiarkan rindu mengalir deras sampai ia jemu.

Putih abu adalah awal perjumpaan ku denganmu. Di sanalah ku bertemu, berkenalan lalu saling dekat denganmu. Kita duduk bersebelahan, hanya bersebrangan satu buah ubin. Berbagi canda tawa dan obrolan ringan denganmu teramat sangat nyaman bagiku. Namun ku tak pernah merayu karena itu bukanlah keahlianku. Kau tahu kesulitanku, tatkala aku belum mengerjakan PR, kau tawarkan jawaban dari PR yang diberikan oleh guru beberapa hari yang lalu. Kau memperlihatkan jawaban bukumu dan tak lupa memberi sebuah syarat untuk mencontek jawaban PR mu, "Jangan sampai jawaban ini kau beri tahu pada teman teman mu" ucapnya begitu. Karena aku lelaki yang patuh dan selalu menjaga sebuah komitmen yang telah terbentuk maka tak akan ku ingkari persyaratan itu dan kau pun percaya padaku. Itu sudah cukup membahagiakan ku dan mungkin saja kita sudah sangat dekat pikirku.

Mengingat kedekatan yang terjadi diantara kita, terbesit dalam pikiranku, mungkin cukup bagiku untuk menyatakan rasa padamu. Dan pada satu kesempatan ku laksanakan inginku. Ku tulis pada secarik kertas kecil yang mengisyaratkan mu untuk menemui di laboratorium belakang kelas. Kaki sudah terlangkahkan dan disitulah rasa sesal dihati tumbuh hingga kini. Ku utarakan perasaan padamu namun sebuah jawaban yang tak ku mau keluar dari bibirmu. "Maaf, bukannya aku tak mau jadi pacarmu tapi aku tidak boleh pacaran dengan ibuku" jawab mu. Akulah lelaki cengeng. Dengan mata berair kuhormati jawabanmu jikalah memang begitu. Namun yang membuat ciut hatiku, sebulan setelah hari itu ku dengar kabar tentangmu. Kabar bahwa kau telah memadu rasa dengan senior di sekolah kita. Pemandangan macam apa ini, lenguhku dalam batin. Entahlah apa yang ada di dalam isi kepalamu, bagiku kedekatan kita adalah sebuah cinta. Karena bagiku bersahabat dengan lawan jenis tentulah tidak ada. Jikapun ada pasti berpura-pura lah ia. Pura-pura selalu ada layaknya kolega yang setia padahal memendam rasa. Yah mungkin begitulah bagimu kedekatan ini. Aku tahu itu bukan salahmu dan tiada niatan dari mu untuk menyakitiku. Mungkin aku yang terlalu menaruh harap padamu.

Semua masih terekam dalam otakku dan ku tempa dalam pita kaset benakku hingga rasanya kejadian ini masih kemarin berlalu. Ku renungkan berkali-kali sembari menikmati seutas sigaret yang kepulan penyesalannya terasa begitu mencekam. Ditemani gemericik titik air musim penghujan, aku tenggelam dalam kenangan senduku. Dan kau tak pernah tahu atas derita segala kepiluan ku. Karena sejatinya bahagiamu juga bahagiaku walau kita tak pernah bersatu.

Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "Menempa Kenangan Menjadi Rindu"

  1. Kata kata yang sangat menyentuh min, boleh nih dibuat status 😅..

    Masa-masa Putih Abu (Nice) 😀👌🏻

    ReplyDelete
  2. Jadi kembali ke remaja lagi kalau membacan kalimat seperti ini, terimaksih min!!!

    ReplyDelete
  3. Ibarat kata, sendalku berdampingan dengan sendalmu saja aku sudah bahagia, ya. Suka dengan pilihan diksinya.

    ReplyDelete
  4. Kaya akan bahasa ni miminnya, bagus banget banyak majasnya

    ReplyDelete
  5. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    arena-domino.club
    arena-domino.vip
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete