Rencana Untuk Lelaki Malang

Rencana Untuk Lelaki Malang




Kakinya merambat perlahan pada sebuah jalan yang begitu lengang, disinari cahaya purnama yang membuat rumah-rumah terlihat begitu pucat dan pepohonan tampak kaku. Sesekali lolong binatang malam berhamburan mencoba memecah hening suasana malam itu. Udara yang begitu dingin membuat tubuhnya sesekali menggigil. Ia sulut sebatang sigaret untuk mengusir dingin yang mencumbu ria tubuh kerontangnya itu. Dari fenomena yang demikian, nampaklah bahwa lelaki itu seperti orang kurang gizi. Dengan pekerjaannya yang perlu mengeluarkan tenaga yang ekstra kerap menciptakan bulir-bulir keringat sebesar biji jagung atau sebut saja ia soerang pekerja kasar mudahnya. Hingga baginya menjadi gemuk hanyalah mimpi. Jam kerjanya juga terjadwal, hanya saja bukan alat tulis kantor yang dibawanya.

Ya, dia bekerja sebagai buruh di pabrik sawit. Meski pekerjaanya yang begitu menguras banyak sekali tenaga namun gajinya tak seberapa. Cukup untuk makan dan beli rokok sehari hari. Dan jika ada sedikit uang yang tersisa tentulah ia tabung. Bekal untuk meminang anak orang. Hanya saja sejauh ini pun ia belum mendapatkan seorang calon yang akan dijadikan pendamping hidupnya. Mungkin ada hanya saja ia pikir mana ada gadis yang mau dengan dirinya yang hanya seorang buruh pekerja kasar yang gajinya pas-pasan. Memikirkan itu saja sudah cukup bikin kecut dan jadi minder dibuatnya. Apalagi orang-orang tua model sekarang ini, maunya punya menantu yang kriterianya paling tidak atau minimalnya harus memiliki tanah satu hektar. Terlebih bila ada orang yang ingin meminang anaknya itu punya sebuah perusahaan, senang bukan kepalang mereka.

Namun sejatinya dalam hidup adalah bagaimana caranya bersyukur, bukan mengeluh ataupun meratapi apasaja yang terjadi. Hanya saja mungkin sesekali ia khilaf, mengeluh tentang betapa susahnya mengais rupiah. Namun apalah daya dengan ijazah sekolah menengah pertama yang dimilikinya. Ah, tak apalah lenguhnya dalam batin, mana mungkin tuhan tidak menurunkan rejeki pada hambanya yang setidaknya sudah melakukan sebuah usaha. Toh masalah jodoh tentulah tuhan juga sudah mengaturnya, kenapa harus dijadikan permasalahkan dan dipusingkan berlarut-larut. Jika memang ada yang disuka cukup doakan saja setiap melaksanakan ibadah lima waktu, terlebih bisa mendoakannya pada sepertiga malam. 

Ia kini jadi pemuda sebatangkara. Bahkan sejak dahulu ia tidak tahu bagaimana rupa ayahnya. Barangkali ketika ia berusia dua tahunan ayahnya meninggal, menurut rumor yang diketahui dari cerita kakeknya. Hanya seorang ibulah yang ia miliki. Namun buruknya ketika ia baru lulus dari pendidikan sekolah dasar ia ditinggal ibunya. Meninggal karena terjangkit penyakit stroke, disebabkan terlalu banyak pikiran yang kemudian membuat peredaran darahnya tidak stabil memicu hadirnya penyakit stroke.

Kemudian ia diadopsi oleh pak lek nya. Sebaik baiknya tinggal dengan saudara akan lebih baik jika kita tinggal dengan orang tua kita sendiri. Semasa ia diadopsi oleh pak lek nya, setiap pagi ia tak pernah santai barang sedikitpun. Pada pagi buta Ia sudah membantu pak lek menyadap nira. Ketika sinar matahari bersimbah menerangi daratan, ia berangkat sekolah. Jika pada umumnya anak-anak bersantai ataupun bermain sepulang dari sekolah maka ia bukan termasuk mereka. Karena sepulang sekolah ia merumput, mencari pakan kambing, peliharaan sang pak lek. Bukan main capeknya ia menjalani hidup seperti itu, hingga ia lulus sekolah menengah pertama. Setelah kelulusannya ia memilih meninggalkan kehidupan sulit itu dan memutuskan bekerja sebagai buruh angkat dan giling sawit di sebuah pabrik. Kini ia tinggal sendiri menempati bekas rumah sepeninggalan orang tuanya. Duduk termenung di bawah sebuah pohon kelapa, sesekali ingatan tentang ibunya hadir, yang membuatnya menganak isakkan tangis hingga tersedu sedu. Betapa sulit kehidupan dihadapinya. 

Suasana mencekam kembali hadir menghiasi sudut dari ujung hinga ujung kampung. Barangkali sudah menjadi takdir ilahi dan kehendak semesta. Tuhan melengkapi segala susahnya hidup seorang hamba dengan cara yang baik. Terdengar kabar bahwa ada seorang lelaki meninggal sebab tubuhnya masuk kedalam mesin penggiling kelapa sawit di sebuah pabrik. Barangkali sudah sering terjadi kejadian ini, hampir tiap tahun bahkan layaknya sebuah ritual yang mungkin bisa dijadikan sebagai dongeng pengantar tidur bergenre horror. Dan semenjak terbitnya berita itu, tak pernah terlihat lagi lelaki sebatangkara itu.

Subscribe to receive free email updates:

5 Responses to "Rencana Untuk Lelaki Malang"

  1. Sangat terimspirasi dan terharu bagi yang membaca,saya sangat menyukai hikayah terutama bagi seorang seorang santri

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Jadi gini gan, HITnya dapet, namun alurnya terlalu berbelit. Alangkah menarik juga jika diberi percakapan antara si tokoh dengan Pak Leknya ato tokoh lain. Overall, cerita tragedi yg seru dan sendu.

    ReplyDelete
  4. alangkah kasihannya lelaki sebatangkara tersebut. semoga lelaki sebatangkara tersebut bisa hidup bahagia. dan semoga kita semua para blogger selalu diberikan kasih sayang oleh orang orang terdekat kita.

    ReplyDelete