Ketika Hati Lainnya Tak Restu
Pada pagi buta yang menerbangkan butir-butir embun yang terjun bebas merindu tanah, segala makhluk mulai bertebaran mencari karunia sang pemilik cipta. Aku yang baru saja usai melaksanakan suatu tugas wajib sebagai seorang hamba. Ya, ibadah salat subuh, walau kesiangan pula aku nampaknya. Menelisik tiap panorama indah kala pagi tiba, mendengar alunan kicau burung-burung yang riuh bertasbih pada-Nya. Angin semilir berhembus perlahan bahkan teramat pelan hingga terdengar seperti berbisik atas apasaja yang akan terjadi hari ini, walau ujungnya kita tidak tau apa yang hendak disampaikannya.
Seperti manusia awam pada umumnya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi meski sehari, sejam, semenit bahkan sedetik kedepan barang sekalipun aku tak mampu menebak. Yang kutahu ini adalah hari pertamaku masuk kuliah setelah menjalani proses panjang mengenali budaya akademik kampus. Tentu saja hal ini barang asing yang benar-benar pelik yang tiada hentinya mengusik seluruh tempurung kepalaku ini. Terlebih banyak lolongan sumpah serapah dari para senior yang menyebutkan sumpah mahasiswa yang barang kali tak elok jua didengar oleh telinga. Tak kusangka akhirnya hari-hari itu terlewati. Memang masuk akal jika ada pepatah mengatakan bahwasanya sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Apakah kau sadar detik kian detik yang kau habiskan lama-lama menjadi abad. Jika tidak maka kau adalah orang yang merugi sebab kau tidak acuh terhadap waktu yang sebenarnya menggerus tiap bagian dari hidupmu. Meski begitu setidaknya aku bersyukur sebab populasi orang sukses yang sadar akan waktu berkurang. Aku mulai melangkah keluar dari kontrakan tak lupa lisanku merapalkan segala doa sebelum berangkat, agar aktivitasku berjalan lancar tanpa ada satu pun gangguan menghadangku.
Akhirnya tibalah aku di gedung fakultas, memandang kesana-kemari mencari beberapa orang yang kukenal dari proses pengenalan budaya akademik kampus yang ku lalui sebelumnya dan akhirnya aku menemukan mereka. Layaknya perkumpulan kambing yang dungu kami benar-benar tidak mengerti apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Hanya duduk sambil memandang smartphone yang kami genggam dan masing-masing memandangi smartphonenya tiada henti. Setelah lama seperti itu akhirnya kami putuskan untuk mencari member sekelas yang belum kami ketahui barang pucuk hidungnya sekalipun melalui bertanya pada setiap orang yang belum kami kenal. Namun mataku terfokus pada satu titik. Ya, seorang gadis jelita yang benar-benar membuat hati tersentuh tanpa bisa dituangkan dalam bentuk aksara. Dan ternyata ia adalah member kelas ku, dan nampaknya secercah harapan baru akhirnya muncul, rasanya seperti dipertemukan dengan sebuah anugerah yang luar biasa. Aku yang tak sabar segera menghampirinya, membuka beberapa percakapan basi yang lebih busuk dari pada sebuah nasi yang telah ditanak satu dasawarsa yang lalu. Setelah perbincangan yang kami lalui akhirnya aku tahu ternyata kami memiliki keidentikan kegemaran: mengoleksi drama Korea. Ah tak kusangka jagat raya sangat baik terhadapku, tak kusangka kami berada di kelas yang sama dan punya kegemaran yang sama pula. Seolah semua keluar dari akal logis ku, keluar dari segala yang ada di benakku dan dipertemukan semudah ini oleh takdir. Hingga akhirnya dengan mudahnya aku jatuh cinta, cinta pada rupa memenuhi hasrat akan hawa yang akhirnya melalaikan ku pada satu pepatah: jika kau jatuh hati hanya karena rupa bagaimana kau mencintai sang pemilik cipta yang tak memiliki rupa.
Tanpa sadar akhirnya aku larut dalam waktu yang membuat rasa ini makin membesar, ganas bagai tumor yang tak jinak, menggunung tanpa sepengetahuanku. Hal itu mulai kusadari ketika apapun yang ia pinta tak ada satupun yang aku tolak. Aku turuti seluruh keinginannya bagai anjing yang patuh pada sang pemilik tali. Selalu ku iyakan apa saja yang jadi kehendaknya. Ku usahakan atas segala permintaannya yang belum bisa aku penuhi saat itu. Bahkan jika ia meminta seluruh ingatanku tak akan berpikir dua kali untuk memberikan padanya. Agar hanya dia saja yang ada di segala pikiranku. Usahaku makin menggila ketika aku tahu bahwa ia sedang menjalani hubungan dengan seseorang, meskipun itu hanya hubungan jarak jauh namun hal itu berhasil memukul batinku. Semakin keras usahaku dan tak ku hiraukan meski langit bergumam sia-sia.
Akulah binatang jalang yang telah dibutakan oleh sebuah rasa, rasa yang hanya direstui oleh satu hati saja, sedangkan hati yang lain tak acuh. Memikul seribu satu beban rindu dan sakit sendiri. Walau seberapapun kerasnya usaha orang kontrakan menyadarkanku akhirnya tak guna jua. Karena sesungguhnya menasehati orang gila lebih mudah dari pada menasehati orang jatuh cinta. Dan herannya dia selalu memberikan harapan tak jujur ketika semangat ku terhadapnya yang mulai surut.
Seolah seperti kejadian terulang tiada henti, pasang lagi semangatku mengejarnya.
Karena sejatinya harapan selalu ada, meskipun berkali-kali ku dipecundangi oleh harapan. Sebab akulah insan yang tiada lelah berharap. Aku ketagihan untuk berharap, seperti candu meski ujungnya dustanyalah yang aku tuai juga. Setelah kedua kaki ini patah dan tak mampu lagi berdiri akhirnya perlahan mulai ku hentikan pengejaran yang tidak sedikitpun ada rasionalnya ini. Kau hitung sajalah dengan segala rumus yang telah dicetuskan ilmuwan dari segala penjuru galaksi. Seolah kami sedang bahagia kejar-kejaran, nyatanya kejar-kejaran ini mencacati satu pihak. Ku harap aku bisa mencintai batu karena setidaknya batu bisa retak setelah sekian lama ditetesi air, sedangkan ia tidak. Tak ada satupun kata lagi yang mampu ku ucap atas kerasnya hati yang ia miliki. Karena yang disebut jatuh itu nyatanya benar menyakitkan adanya. Jatuh hati pada cinta yang tidak dikehendaki oleh semesta.
Karena sejatinya harapan selalu ada, meskipun berkali-kali ku dipecundangi oleh harapan. Sebab akulah insan yang tiada lelah berharap. Aku ketagihan untuk berharap, seperti candu meski ujungnya dustanyalah yang aku tuai juga. Setelah kedua kaki ini patah dan tak mampu lagi berdiri akhirnya perlahan mulai ku hentikan pengejaran yang tidak sedikitpun ada rasionalnya ini. Kau hitung sajalah dengan segala rumus yang telah dicetuskan ilmuwan dari segala penjuru galaksi. Seolah kami sedang bahagia kejar-kejaran, nyatanya kejar-kejaran ini mencacati satu pihak. Ku harap aku bisa mencintai batu karena setidaknya batu bisa retak setelah sekian lama ditetesi air, sedangkan ia tidak. Tak ada satupun kata lagi yang mampu ku ucap atas kerasnya hati yang ia miliki. Karena yang disebut jatuh itu nyatanya benar menyakitkan adanya. Jatuh hati pada cinta yang tidak dikehendaki oleh semesta.

Sangat menginspirasi mas tulisan nya :D sukses selalu
ReplyDeleteGaya bahasa nya keren min, btw itu pengalaman pribadi apa bukan yah??
ReplyDeleteCerpen yang luar biasa, itulah cinta bisa membuat hati dan pikiran kita terpenjara. Terasa sepi meskipun di tengah keramaian, selalu berharap meski berulang kali disakiti.
ReplyDeleteApakah cinta mampu menemukan jatidiri seseorang min?
ReplyDeleteWah aku suka banget nih cerita-cerita beginian... bahasanya keren-keren melankolis, mencerminkan seseorang yang memiliki bakat penulis novel kelak... lanjutkan min berkaryannya... Ketika Hati Lainnya Tak Restu
ReplyDeletewkwkkw pengalaman sendiri ya?
ReplyDeleteIni bisa disebut sajak, esai, cerpen dan opini. Luar biasa sih, Indonesia butuh yg ky gini lebih banyak.
ReplyDeleteKarya sendiri kh gan? Keren gan, luar biasa banget. Teruskan berkarya...
ReplyDelete