Ada Apa Tentang Jomblo
Ketika kehidupan dipandang sebagai langkah menentukan suatu pilihan maka ia memilih untuk berpacaran. Karena pada hakikatnya ia memiliki hak untuk berpacaran dan jomblo sebagai suatu kewajiban yang harus dijalankan. Ya, alasannya sederhana. Alasan utama yang mendasarinya adalah karena sesungguhnya berpacaran itu haram atau dilarang oleh agama dan alasan sekundernya karena ia dilahirkan dengan keadaan memiliki tampang dan perawakan yang tidak memadai, serta rendahnya tingkat kepekaannya terhadap lawan jenis. Tapi sebenarnya tidaklah buruk menjadi seorang jomblo karena ia memiliki hak untuk tidak diselingkuhi dan disakiti.
Pada hakikatnya jomblo adalah sebutan untuk makhluk yang MAkan, Nyuci, dan tiDur sendiRI atau lebih akrabnya dekenal dengan sebutan "MANDIRI". Terlihat menyedihkan, hanya saja ia mengemban sebuah amanat sebagai seorang utusan yang menjalankan tugas suci yang diturunkan dari langit kepadanya. Masalah adil atau tidaknya itu relatif, adil ketika ia sedang nyaman dengan status jomblo yang disandangnya dan tidak adil ketika keiriannya muncul saat melihat orang lain bahagia bisa nge-date dimalam minggu.
Karena pada dasarnya hidup tidak seindah drama ,tidak semua pertemuan berujung kebahagiaan, tidak semua cinta itu terbalas dan dirasakan oleh kedua pihak, seperti bertepuk sebelah tangan contohnya. Drama hanyalah kisah fiktif yang benar-benar menarik para pemirsanya jatuh di dimensi imajinasi level dewa. Kisah lelucon bodoh tapi candu. Walaupun begitu setidaknya drama bisa jadi pengganjal hati jomblo akut yang lapar akan cinta. Meski secara tidak sadar sebenarnya mereka sudah melukai mata mereka sendiri. Betapa tidak, mereka melihat hal tidak pernah terjadi pada diri mereka bahkan mungkin malah sebaliknya. Terlalu baper dengan segala kondisi yang menunjukkan betapa lemahnya mental perasaan mereka.
Jika dibilang jomblo itu miskin ia tak menyangkalnya. Karena jomblo tidak kaya akan rasa sampai-sampai berderma perasaan dan membagi-bagikannya seperti ayam jantan yang buas birahinya. Betapa tidak cobalah buka matamu lebar-lebar dan lihatlah ayam, satu pejantan untuk sejagat betina. Jika itu yang mereka sebut pejantan hebat okelah tak masalah karena sejatinya filsafat hidup manusia memang berbeda-beda. Bagi ia yang hebat itu adalah bersikap hemat akan rasa, tidak mudah jatuh hati pada bunga-bunga bangkai yang semerbak menyengat rasa. Tidak memubazirkan rasa untuk hal-hal yang bersifat memuaskan dahaga hawa nafsu yang berujung mencacati hati insan lain. Baginya miskin bukan berarti tak bisa berbagi apapun hanya saja ia tak mampu membagi-bagikan rasa selain pada satu hati. Dengan begitu rasio kemungkinan menyakiti hati yang lain akan sangatlah kecil.
Ada hal-hal yang mengusik dalam benaknya hingga ia tak mampu keluar dari zona jomblonya itu. Yang pertama ia takut akan kepalsuan, takut akan perpisahan yang nyatanya setiap pertemuan pasti ada perpisahan, takut akan sakit-menyakiti yang akan ada salah satu pihak terlampau cedera. Karena pada hakikatnya kita manusia awam yang tak mampu membaca hati apakah orang itu tersakiti atau tidak. Bisa jadi kita menyakiti tanpa kita sadari, mungkin saja melalui perkataan, tindak tanduk dan lainnya. Karena pada dasarnya tidak akan ada jalan cerita yang benar-benar licin bak lantai ubin yang kau guyur oli atau jalan cerita yang mengorbit sesuai dengan garis orbit yang kau bentuk sendiri dengan angan polosmu.
Bahkan kita juga tidak tahu skenario hidup yang telah semesta vonis untuk kita jalani. Dunia tempat tinggal yang fana, di kolong langit inilah lahir seribu satu binatang jalang dan benih benalu yang tiada henti mereka menebar benih-benih kepalsuan, melontarkan sajak-sajak dusta menikam tenang tiap insan baik disekitarnya. Wajar saja jika ia takut pada tiap-tiap binatang dan benalu pandai aksara yang mencumbuinya. Singgah ketika punya segudang mau dan pamit tatkala dimohon rasanya. Akhirnya ia memilih menggantung segala rasa pada bintang-bintang dan menaruhnya di almari jagat raya. Ia pertaruhkan jodohnya pada sang pemilik cipta atas segala kegalauannya pada semesta dan coba tabah atas apa-apa yang diberikan padanya. Jika diperkenankan ia junjung senja agar gelap tak datang menghalang pandangannya melangkah mencari kehidupan yang hakiki. Kehidupan memanglah nyata tapi nampak semu baginya. Cukuplah skenarionya jadi serpihan kisah para jomblo yang ditertawai dunia meski hal itu adalah sebuah kebaikan. Karena nyatanya apa yang dipandang buruk oleh manusia belum tentu buruk dihadapan sang Rab yang maha adil atas segala kehendak-Nya.
Bahkan kita juga tidak tahu skenario hidup yang telah semesta vonis untuk kita jalani. Dunia tempat tinggal yang fana, di kolong langit inilah lahir seribu satu binatang jalang dan benih benalu yang tiada henti mereka menebar benih-benih kepalsuan, melontarkan sajak-sajak dusta menikam tenang tiap insan baik disekitarnya. Wajar saja jika ia takut pada tiap-tiap binatang dan benalu pandai aksara yang mencumbuinya. Singgah ketika punya segudang mau dan pamit tatkala dimohon rasanya. Akhirnya ia memilih menggantung segala rasa pada bintang-bintang dan menaruhnya di almari jagat raya. Ia pertaruhkan jodohnya pada sang pemilik cipta atas segala kegalauannya pada semesta dan coba tabah atas apa-apa yang diberikan padanya. Jika diperkenankan ia junjung senja agar gelap tak datang menghalang pandangannya melangkah mencari kehidupan yang hakiki. Kehidupan memanglah nyata tapi nampak semu baginya. Cukuplah skenarionya jadi serpihan kisah para jomblo yang ditertawai dunia meski hal itu adalah sebuah kebaikan. Karena nyatanya apa yang dipandang buruk oleh manusia belum tentu buruk dihadapan sang Rab yang maha adil atas segala kehendak-Nya.

saya mandiri dong, soalnya lagi jomblo hehe
ReplyDelete