Introvert Akut
Syahdan, di sebuah kontrakan yang teramat tenang nan sunyi. Warna cat hijau muda yang melekat erat pada dindingnya memperkuat kesan damai di dalamnya. Alasannya sederhana, kesunyian yang diakibatkan oleh kepergian para penghuninya kembali ke habitat asalnya. Tempat dimana pepohonan hijau yang masih kukuh berdiri menyangga langit, alunan merdu simfoni katak kala penghujan dan lembut melodi jangkrik kala langit menghitam yang menenangkan jiwa meski pemanasan global menyerang. Dikontrakan itulah Terdapat sebuah alkisah dimana seorang mahasiswa yang biasa saja, berusaha bertahan hidup dalam kerasnya negeri perantauan. Di sanalah ia belajar banyak hal mulai dari bagaimana rasanya makan mi selama seminggu tanpa nasi, makan nasi dengan gorengan tanpa sayur bahkan berpuasa Senin-Kamis tanpa sahur. Memasang tampang layu dipagi hari bagai tak tersentuh oleh embun, ia rela tak sarapan demi menikmati sebatang rokok dalam keburu-buruannya menghadiri jam kuliah pagi yang telah ditetapkan kampus.
Kesehariannya sebagai mahasiswa seperti yang dilakukan sebagian besar mahasiswa lainnya, begadang, kesiangan, diusir dari kelas dan berujung mengupat pada dosen. Tak ada yang spesial dari dirinya hanya saja ia perlu mendapat sebuah perlakuan khusus pada penyakit yang diidapnya yaitu; introver akut.
Menjadi sosok penyendiri adalah hal yang terbaik baginya. Baginya sepi adalah sunyi dan sunyi adalah tenanga dan ketenangan itulah yang selalu menjadi sahabat terbaik baginya dimana dia bisa merenungkan segala yang terjadi pada hari ini dan hari esok yang berkaitan dengan masa depan. Merenungkan semua hal-hal buruk yang akan terjadi di dunia fana ini, contoh mudahnya seperti dilanda kemiskinan dimasa mendatang. Mungkin bagi sebagian insan kesendirian hanyalah membuat mereka semakin stres karena mereka tidak bisa bersendau gurau, berkumpul dengan teman-teman mereka, berbagi apa saja yang bisa mereka bagikan. Seperti berbagi guyonan, berbagi kisah kehidupan asmara, berbagi pengalaman hidup dan lain sebagainya. Menurutnya memendam apa saja yang terjadi padanya adalah hal biasa ia lakukan, karena menurut pandangannya lebih baik segala kisah yang menimpanya cukup ia dan tuhan saja yang tahu.
Ia berbeda dari para remaja lainnya, yang telah memulai menjalin kisah asmara dengan lawan jenis mereka ketika masa Putih abu atau bahkan sudah dimulai sejak putih biru. Bahkan sampai pada masa perkuliahan pun ia belum pernah merasakan hal semacam itu. Rasa memiliki satu sama lain, rasa disayangi lawan jenis, rasa diduakan oleh lawan jenis dan rasa kehabisan uang karena nge-date terlalu berlarut-larut. Alasan terbaik darinya adalah karena rasa sayang yang didapat dari kedua orang tua jauh lebih baik dari semua itu.
Hembus angin musim peralihan menerpa wajahnya, berdesir dengan daun pepohonan yang rindang, menyentuh lembut dedaunan kering hingga berjatuhan menciumi bumi, terngiang di benaknya akan sebuah kisah kelam yang pernah terjadi padanya. Sebuah kisah kelam masa awal ia menginjakkan kakinya di bangku putih biru. Rasa terdustai, terkhianati, tersia-sia oleh seseorang pada masa itu. Meninggalkan sebuah sayatan di hati yang hingga kini pun tak kunjung sembuh pula. Bahkan dari dalam hati kecilnya ia berteriak kenapa hal yang buruk ini harus menimpanya, kenapa harus ia?. Menganggap bahwa semesta tidak adil pada dirinya, hukum alam tak sejalan dengan apa yang jadi kehendaknya. Bahkan dalam benaknya ia bertanya, mengapa datang jika hanya ingin memberi secercah kepalsuan dan mengapa mencoba mendukung jika ujungnya hanya ingin menjatuhkan. Bahkan hal ini baginya lebih sukar dipahami dari pada sebuah kalimat logika matematika, filsafat Yunani kuno atau bahkan aksara yang tertulis di sebuah prasasti. inilah sebuah awal yang melatarbelakanginya menjadi seorang yang cinta dengan diri sendiri dari pada lawan jenisnya. Menjadi introver akut yang anti sosial. Yang ada dipikirannya saat ini dunia adalah tempat ideal yang dipenuhi dengan hal-hal palsu.
Sinar merah mulai merekah di ufuk barat pertanda senja telah tiba. Arak-arakan awan hitam yang tipis disertai teriakan gemuruh mulai menurunkan butir-butir air yang merindu pada tanah, diikuti suara sendok beradu dengan gelas menjadi penutup renungannya kali ini. Ia menghela napas panjang menikmati sajian aroma hujan yang khas setelah kian lama kemarau menghadang. Melihat panorama butir air beradu dengan tanah kering, memberikan kehidupan pada benih-benih rumput yang telah ditabur sang pencipta. Ia pandang lampu jalan di pojok kontrakan dari jendela serta berharap semoga waktu mampu menggerus kenangan pahit yang telah membuat dirinya keracunan hingga kini. Dan biarlah titik-titik hujan perlahan menghapuskan kenangan sendu itu.

bagus gan cerpennya. jdi introvert memang gak enak gan, susah kalau mau adaptasi sama orang :curhat: :v
ReplyDelete